Minang Beda dengan Padang

Oleh: Jimmi VIlli (Sutan Rajo Nan Sati)

Minang berartikebenaran, kerbau sebaliknya. Jadi Minangkabau artinya “menang dengan kebenaran”. Orang Minang bisa tulis baca setelah masuk ajaran Agama Islam. Dalam rentang waktu 20 tahun terakhir ini, terjadi perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakat Minang. Perubahan itu, ibarat kata pameo; jalan lah diasak urang lalu, cupak lah diganti dek urang panggaleh. Maksud dari tulisan ini tak lain dan tak bukan untuk sekedar menggugah hati Saudara-saudara saya di Alam Ranah Minang, agar sama-sama menyadari perubahan tersebut untuk dicarikan solusinya ke depan.

Untuk menjadi pemimpin seseorang harus memenuhi syarat utama sebagai berikut :

v Bagalanggang di mato urang banyak, maksudnya seseorang pemimpin harus memiliki track record yang tidak diragukan oleh khalayak ramai tentang prestasi yang pernah diraihnya bukan ditender oleh partai.

v Basuluah matoari, yaitu kesuksesan sang pemimpin harus dikenal oleh orang banyak bukan hanya oleh kelompok-kelompok tertentu saja, agar sang pemimpin dapat diterima oleh pengikutnya tanpa adanya keragu-raguan.

Ibarat pepatah Minang

Baranang kabau dalam tabek (berenang kerbau dalam kolam)

Didalam tabek digigik lintah (didalam kolam digigit lintah)

Kok panghulu indak tahu kato nan ampek (bila pemimpin tidak tahu kata yang empat)

Balunlah buliah mamarentah (belum bisa dia memerintah)

Selama ini, Sumatera Barat yang dikenal lumbung pendidikan berbudaya apakah benar-benar sudah berbudaya? Atau membudayakan pendidikan ke arah negatif?

Namun sayang, sosok orang pintar yang disegani tinggal tidak seberapa. Ini adalah buah dari pendidikan yang salah. Kenakalan remaja jadi menu setiap hari. Tapi pernahkah kita mendengar kenakalan orang tua. Padahal, kenakalan orang tua (pemimpin) lebih dahsyat lagi. Melakukan korupsi dan selingkuh.

Selalu Ingin Lebih Baik

Istana Negara Tri Arga, dulunya diagung-agungkan sekarang disulap jadi sebuah Hotel Novotel. Padahal, Istana Tri Arga yang terletak di jantung kota Bukittinggi, punya nilai sejarah yang sangat tinggi, JASMERAH kata almarhum Soekarno. Disana, ada sekolah rakyat, tempat bersekolahnya Proklamator RI, Bung Hatta. Tak hanya itu, juga terdapat kantor pengadilan yang pernah mengadili tokoh-tokoh perjuangan.

Namun sungguh amat disayangkan, ketika itu Gubernur Sumbar, ikut memuluskan ketika sebuah Istana disulap jadi hotel milik swasta. Dan kemana raibnya dana kompensasi tanah tersebut. Ada juga yang bertanya, kenapa sampai sekarang fasilitas umum, Istana Tri Arga, dijadikan Hotel Novotel. Padahal namanya Istana Negara RI wajib dijaga kelestariannya, bukan dijadikan tempat bisnis.

Percuma saja memiliki Profesor dan Doktor yang jumlahnya segudang dengan biaya pendidikan ditanggung negara. Tapi hanya bisa bicara dari warung ke warung. Bukannya berbuat untuk kebaikan negara. Sampai pabrik Semen Indarung diakuisisi, masyarakat minang mainbau MUI, LKAAM, Ormas lainnya dan Publikasi ribut-ribut setelah keluar komisi dan mendapat jabatan posisi tidak terdengar suaramu lagi. Walaupun bertukar namanya PT RAJAWALI untuk menyenangkan hati. Dasar Bangsa Kaki Lima, itulah namanya.

Presiden pilihan rakyat SBY adalah sosok yang pintar, bukan orang pandai yang gila sanjungan dan hormat. Orang pintar seperti : Alm. Bung Hatta, Alm. Buya Hamka, Prof. Emil Salim, Jendral Sudirman (Alm), Tuanku Imam Bonjol (Alm) dan sebagainya begitu disegani keberadaannya, dan perhatikanlah!! bagaimana para orang-tua mendidik anak-anaknya supaya dapat seperti mereka-mereka itu di kemudian hari nantinya.

Dua kerusakan mendasar dalam masyarakat kita saat ini adalah kerusakan nagari dan kerusakan tapian. Artinya, kerusakan itu terjadi dari yang kecil dan sangat pribadi yaitu tapian (tempat mandi). Kerusakan lebih luas dan besar, yaitu nagari sebagai wadah bermasyarakatnya orang Minang. Untuk melihat sejauhmana kerusakan tersebut, ada baiknya kita telusuri mulai dari tunjuk ajar yang sering kita dengar dalam berbagai pertemuan kaum maupun pertemuan nagari. Tunjuk ajar itu adalah; rusak nagari dek pangulu, rusak tapian dek nan mudo. Hal itu memang sedang terjadi, dua kerusakan sekaligus.

Pada tahun 80-an, lahir lagu kocak yang dibawakan almarhum Syamsi Hasan, tembang Minang itu cukup populer dan meledak di pasaran. Kaset yang diproduksi Tanama Record itu seolah-olah menyindir kehidupan masyarakat Minang yang sudah lari dari Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Bahkan, pertanda daerah ini sudah diambang kehancuran.

Padahal, saat itu sosok Syamsi Hasan yang juga pegawai negeri merasakan tanah kelahirannya Sumatera Barat hancur gara-gara kepemimpinan salah arah. Dimana-mana terjadi ketidakberesan, oknum pejabat yang dekat dengan pemilik kursi nomor satu di rumah Bagonjong, menikmati enaknya mengeruk keuntungan pribadi. Zaman itu, tidak ada yang berani bersuara vokal untuk menentang perbuatan bejat sang pejabat atau pemerintah yang salah jalan. Maka Syamsi Hasan, dengan gayanya sendiri mencoba lewat lirik lagu sebagai bahasa kiasan. Tujuannya, agar rakyat lebih arif, namun dengan lirik lagu itu banyak yang tak mengerti. Seperti judul lagu, Lego Pagai, menantu dengan mertua, anak dengan ayah, mamak dengan kemenakan pada berantam. Kemudian urang sumando bertingkah macam-macam. Ini tak lain, karena banyaknya orang jadi sumando di tanah Minang dan banyak pula perangainya. Seperti sumando berasal dari suku Batak, maka terciptalah lirik lagu Sopir Batak Stokar Kaliang, artinya, suku dari utara itu cuma bisa bersuara keras dan lantang, sedangkan stokar orang Kaliang pintar bicara tapi hasil tak ada. Jadi ada pameo mengatakan, lidahnya seperti urang kaliang.

Kondisi Ranah Minang makin rusak, karena tidak ada lagi penghargaan bagi Bundo Kanduang. Kaum wanita yang begitu diagungkan di Ranah Minang mulai melakukan perbuatan tidak senonoh. Maka lahirlah lagu Saleha. Lirik ini menceritakan bagaimana seorang wanita yang tidak setia dan selalu berbohong dengan kekasihnya. Kemudian, tak terhitung banyaknya orang Boco Aluih, terutama niniak mamak yang seenak perutnya memberikan gelar Datuak kepada orang-orang berduit. Sebetulnya, mereka itu tidak pantas dengan gelar yang disandang itu. Hal ini disebabkan, niniak mamak lebih mementingkan keuntungan pribadinya dibandingkan untuk kaum sendiri. Bahkan, tidak segan-segan berantam dengan anak kemenakan soal tanah. Karena matanya sudah silau dengan harta duniawi yang tidak bisa dibawa mati.

Di masa pergerakan kemerdekaan, para perantau Minang sudah sukses sebagai tokoh pergerakan nasional hingga Indonesia merdeka. Sebut saja beberapa contoh, Alm. DR. Haji Abdullah Ahmad (PGAI), Bung Hatta (Alm), Agus Salim (Alm), M Yamin ( Alm), Mr. Assaad (Alm), M. Natsir (Alm), Tan Malaka (Alm), Sjahrir (Alm), dan lain-lain. Sejumlah pebisnis Minang yang besar di rantau juga sempat membesarkan bisnisnya di kampung, seperti : NPM, HZN, dan ANS. Begitu pula di bidang perhotelan seperti Hotel Dimens dan Hotel Denai. Untuk menggerakkan roda ekonomi daerah, para pedagang Minang yang telah sukses di rantau bersepakat pula mendirikan Bank Nasional (Banas) di Kota Bukittinggi Bank ini merupakan bank pertama di republik ini. M. Ruzuar (alm.) (Wowo Group) dealer mobil Dodge, Fiat, Jeep, Ford, Pabrik dan Ekspor Impor, Hadis Didong, Pabrik Minyak Goreng dan Pabrik Sabun. H. Hasyim Ning (Alm) pengusaha nasional.

Karatau madang di hulu, Babuah babungo balun, Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun. Kok jadi bujang ka Pakan, iyu bali balanak bali, Ikan panjang bali dahulu, Kok jadi bujang bajalan, ibu cari dunsanak cari, Induk samang cari dahulu. Maka dari itu kehidupan di rantau kita jadikan guru untuk memimpin kampung halaman, bukan sebagai pengajar.

Dalam pemerintahan daerah dan perguruan tinggi, sejumlah tokoh Minang juga berhasil dalam karirnya, seperti; Di zaman Prof. Harun Zain ada nama seperti Prof. Mawardi Yunus, Prof. Firdaus Rifai, Prof. Yacub Isman (Alm), Prof. Djamil Bakar (Alm), Ismail Lengah (Alm), Prof. Mahmud Yunus (Alm), Prof. Asnawi Karim (Alm) Achjarli A Djalil, SH, Prof. Alfian Lains, Prof. Herman Sihombing (Alm), Prof Hendra Esmara (Alm), dan sebagainya. Di masa itu juga ada nama Dokter H. Ali Akbar (Alm) yang mendirikan perguruan tinggi dan rumah sakit YARSI. Di kalangan artis Hj. Erni Djohan, Hj. Elly Kasim, Nuskan Syarif (Alm) artis ibukota. Sementara di era Azwar Anas, muncul nama-nama seperti; H. Karseno, Drs. Sjoerkani (Alm), A. Kamal, SH (Alm), Prof. Ir. Tamrin Nurdin, Anas Malik (alm), Nur. B. Pamuncak (alm), Yanuar Muin, Syahrul Udjud,SH, Sabri Zakaria, Ir. Zulfi Syarif, Prof. Amir Syarifudin, Drs. Tasnim Dahlan (Alm), Drs. Amir Ali (Alm) (Dinas P & K Sumbar), Drs. Aristo Munandar (sekarang Bupati Agam), dan lain-lain. Dalam bidang bisnis, orang Minang yang cukup sukses membuka usaha di daerah ini seperti Sutan Kasim (Alm) mendirikan PT Sutan Kasim/Suka Fajar, Kasuma (Alm) dan Anas Lubuk (Alm) yang membesarkan Harian Haluan, S. Dt. Pangeran (Hotel Pangeran’s), H. Amran (Baiturrahmah), Gusman Gaus (Alm) (perkayuan) serta Indomar Asri (Grafos), . Basrizal Koto (Minang Plaza), H. Syamsudin (Hotel Rocky). H. Aminuzal Amin, H. Bustanul Arifin, pengusaha nasional. Jenderal Polisi Awaluddin Djamin, Mayjend TNI Syamsu Djalal, Prof. Emil Salim.

Berbeda dengan yang besar di daerah yang ditunjuk sebagai pemimpin, dia punya kelompok dan perangai sehingga dalam mengambil keputusan tak netral. Aspek negatifnya menonjol termasuk mengangkat staf bukan berdasarkan mutu dan kualitas dalam bekerja unsur pertemanan yang lebih dominan. Sekarang yang dimaksud dengan kerusakan nagari tentunya kerusakan adat istiadat. Umpamanya kok limbago ka dituang, adaik ka diisi, raso jo pareso nan manipih. Mamak lah bak kato mamak, kamanakan lah bak kato kamanakan. Itulah yang terjadi di alam Minangkabau sekarang.

Jujur dalam pengabdian, namun dalam pembagian bagaimana hasilnya…? Orang perantau mengapa lebih sukses dan berhasil…? Apalagi kalau memimpin kampung halaman. Adapun perbandingan yang bisa kita ambil hikmahnya, yakni : Masyarakat pendatang atau perantau biasanya mereka rajin, sabar, mau belajar, mau melihat lingkungan sekitarnya, mau mendengar nasehat dan cerita pengalaman dari orang tua, berhemat tidak boros dan sebagainya. Sedangkan masyarakat asli atau penduduk setempat itu lebih cenderung malas bekerja, mereka lebih suka disanjung atau dihormati tidak mau mendengar nasehat orang tua, punya watak atau karakter sok tahu, lebih senang menceritakan kejelekan orang lain, tidak mau mengkoreksi diri.

Bangkitlah Pemuda-i Saudaraku Sebangsa, Dengarlah Panggilan Tanah Air Tercinta

Oleh: Jimmi Villi (Sutan Rajo Nan Sati)

Zaman dahulu manusia yang miskin yang berkekurangan artinya manusia hidup hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan nafkah sehari-hari takut berhutang. Zaman sekarang manusia yang kaya selalu berhutang karena ia hidup selalu merasa kekurangan. Artinya manusia itu hidup tidak masalah dililit oleh hutang, yang penting cari kelebihan kepuasan hidup selaku manusia modern mengutamakan gengsi dan penampilan. (Binatang yang buas namun kenyataan manusia itu lebih buas dari binatang).

Peringkat Indonesia dalam soal korupsi dari tahun ke tahun selalu berubah. Tapi berubahnya dari itu ke itu juga. Selalu di nomor atas. Maksudnya, berapa kalipun dilakukan riset dan survei, korupsi di Indonesia selalu masuk golongan negara terparah. Tapi kenapa sebagai bangsa yang menjadikan ’alam takambang jadi guru’, bangsa ini tak pernah mau belajar dari kesalahan tersebut. Anak kecil juga tahu, untuk membersihkan halaman yang kotor harus menggunakan sapu yang bersih. Untuk membersihkan negeri ini dari korupsi, harus ada sistem hukum yang baik dan manusianya yang bersih serta kredibelitasnya terjamin. Tapi di sini, aparat penegak hukum sendiri tidak bersih, bagaimana bisa mengharapkan mereka berani membersihkan belantara korupsi yang sudah begitu akutnya? Akhirnya, yang kita dengar dan lihat cuma ’maling teriak maling’. Korupsi jalan terus, negara makin hancur.

Dalam ranah politik juga begitu. Kita selalu berat hati untuk mengatakan bahwa lembaga parlemen kita juga sarang koruptor. Padahal, dari waktu ke waktu kita disuguhi oleh pemandangan memalukan dari gedung parlemen tersebut bahwa mereka yang menyebut diri ’orang terhormat’ itu selalu mencari kesempatan dan dalih untuk mempurukkan duit ke kantong pribadinya. Sementara di seberang sana, rakyat yang mereka wakili menjerit mati kelaparan karena harga-harga yang makin tak terjangkau.

Dalam kehidupan kenegaraan, juga bisa diibaratkan seperti kehidupan di rumah tangga. Pada tahun-tahun awal, mungkin saja terjadi cek-cok dan ribut-ribut untuk mencari kesesuaian dan penempatan diri dalam keluarga. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) misalnya, sebagai kepala negara (identik dengan kepala keluarga di rumah tangga) terbukti telah bertindak arif dan bijaksana. Dia sangat mengerti perannya sebagai kepala negara yang tidak perlu banyak bicara. Dengan pembawaan yang tenang dan pasti SBY telah mensortir para pembantunya, mana yang berbuat dengan hati nurani untuk kebaikan bangsa, mana yang berbuat hanya untuk uang ini. Tindakan yang diambil SBY sudah tepat, karena begitu rumitnya persoalan yang ditinggalkan oleh tiga presiden sebelum SBY. Bukti kebijaksanaannya perombakan Kabinet Gotong Royong tidak menimbulkan gejolak dan keributan. Malah orang/tokoh yang sebelumnya selalu mengejek sikap SBY jadi malu sendiri dan berdiam diri, termasuk dari publikasi. Karena biarlah mereka itu berbicara mencaci maki atau menghujat tetapi perbuatan sendiri yang akan menghukum dirinya sendiri nanti lebih berat hukuman itu (Hukum Adat) dari pada dimasukkan ke bui (sel tahanan), kasihan anak, istri dan cucu teraniaya hidupnya nanti (hukum pemerintah).

SBY menyadari negara ini baru belajar demokrasi, beliau selaku kepala negara melihat banyak yang tidak berfungsi, seperti BPK, BPKP yang belum sesuai dengan tugas yang diembannya untuk membangun negeri termasuk lembaga peradilan, maka dibentuklah KPK dan Mahkamah Konstitusi di luar lembaga yang telah ada. Sebetulnya itu bisa dijadikan satu lembaga saja, sehingga tidak banyak mengeluarkan biaya. Di lain pihak partai politik yang ada terlampau banyak, sehingga demokrasi terlalu kebanyakan akhirnya kebablasan. Diibaratkan preman, kalau jumlahnya banyak, maka masalah juga akan banyak. Seyogyanya cukup tiga saja, supaya dapat mengaturnya menjadi lebih baik dan musyawarah mufakatpun lebih terdengar dan bisa diputuskan dengan lebih bijaksana. Coba kita renungkan dengan pikiran dan akal sehat. Bukan berarti dijadikan tiga partai, pemerintah bersikap otoriter.

Kita prediksi, lima tahun ke depan akan terasa hasilnya. Ini bila SBY tetap konsisten serta isteri dan anak-anaknya kompak. Apa yang tampak dalam kehidupan keluarganya, bisa mencerminkan kehidupan bangsa yang dipimpinnya. Dalam kehidupan berkeluarga, mereka sudah dewasa usianya. Untuk membuktikan diri, tentu saja SBY harus belajar banyak dari kelemahan para pendahulunya.

Judul tulisan di atas sengaja dipilih, karena satu sama lainnya tak bisa dipisahkan. Menelanjangi diri sendiri mengandung arti bahwa siapa saja, baik sebagai individu maupun kelompok masyarakat melihat dirinya sendiri. Dari potret itulah dengan jujur kita semua bisa mengakui bahwa di badan kita dan di masyarakat kita ada cacat-kebaikan, ada kesalahan-kebenaran. Hanya dengan kejujuran mengakui semua itulah, kita dan bangsa ini bisa membangun masyarakat baru yang lebih baik.

Masuk kandang kambing kita mengembek, masuk kandang harimau kita mengaum, namun masuk kandang ayam jangan berkotek, sama kita dengan ayam. Atau diambil ayamnya ditangkap polisi nanti, jadi ambillah telurnya (ilmu) ayamnya tidak tahu.

Maka dari itu kita hidup penuh dengan Optimis (Oke Tak Miskin) daripada Pesimis (Pasti Miskin). Sama artinya; kalau takut rugi, akan rugi selamanya. Wassalam…

Pemimpin Bibir Sumbing

Oleh: Jimmi VIlli (Sutan Rajo Nan Sati)

Pada tahun 80-an pengusaha rempah-rempah bumbu pemasak makanan terkenal di Padang, H. Selamat (Alm) mencoba bikin gebrakan untuk membantu penderita cacat bibir sumbing. Bantuan ini khusus bagi rakyat yang tidak mampu. Dengan niat tulus dilakukan aksi sosial operasi bibir sumbing. Memang, tujuan baik pengusaha sukses itu sangat besar manfaatnya bagi mereka yang menderita cacat bibir sumbing. Tujuannya, tak lain, menjadikan seseorang lebih sempurna dalam penampilan fisik dan ingin menyelamatkan umat sesuai dengan namanya Haji Selamat, tapi … setelah itu apa yang terjadi???

Ternyata, mereka yang punya bibir sumbing, punya tabiat sumbing pula. Kalau dulu, ketika masih cacat bicaranya tak jelas, suara yang keluar dari bibirnya, sengau dan kurang jelas omongannya. Tapi setelah dioperasi, ia ceplas-ceplos dan bicaranya lantang. Bahkan, ketika berkarir di politik atau memegang satu jabatan empuk bukan main angkuhnya.Ia tak lagi sadar, suara indah yang keluar melalui kerongkongan berkat operasi. Kemudian, semua janji-janji yang pernah dilontarkan kepada rakyat saat kampanye sudah dilupakan. Jadi jangan heran, kalau rakyat mencaci-maki kelakuannya dan mengibaratkan sebagai anjing.

Lucunya, anjing sebagai simbol binatang piaraan untuk menjaga rumah mereka bunuh. Ini tak lain, disebabkan rasa ketakutan berjangkit-nya virus anjing gila. Binatang penjaga rumah itu matinya cukup menggenaskan, ada yang sengaja diberi racun atau ditabrak kendaraan roda empat.

Kekejaman yang dilakukan itu sangat beralasan,karena sebagai pengganti binatang itu sudah ada. Yaitu, mereka sendiri. Buktinya, anggota dewan terhormat lebih banyak bicara daripada kerja. Bahkan, gonggongan anggota dewan tidak lagi ditakuti. Karena rakyat sudah tahu semua perbuatan dan kenistaan yang mereka lakukan.

Jadi tak bisa dipungkiri, hukum di tangan mereka bagaikan bola yang dapat ditendang kesana kemari. Tapi hukum bagi rakyat jelata bagaikan pedang yang menusuk ke hulu hati. Betapa sulitnya mencari orang yang dapat dipercaya di negeri ini, karena pemimpin atau kaum cendikiawan tak suci lagi.

Pada zaman orde lama, masa pemerintahan Ir. Soekarno ada kebijaksanaan, semua perusahaan asing yang beroperasi di tanah air harus dinasionalisasikan. Tujuannya, perusahaan asing itu dijadikan perusahaan negara. Saat itu, banyak perusahaan perkebunan, semen, batu bara dan perusahaan tambang milik orang asing disulap jadi perusahaan nasional selama lebih kurang 16 tahun memerintah.

Kemudian di era orde baru terakhir, adanya kabut asap yang terjadi selama enam bulan di Pulau Sumatera dan kemarau panjang di Pulau Jawa, adalah “tanda alam” bakal terjadi peristiwa penting di tanah air. Kenyataannya benar, H.M. Soeharto melepaskan jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia, selama 32 tahun beliau memimpin bangsa ini dengan suka duka dan kenangan.

Di saat usianya mulai renta, Soeharto didesak oleh mahasiswa untuk turun, sebagai gantinya B.J. Habibie wakil sekaligus murid setianya yang dikenal sebagai ahli teknologi. Lengsernya Soeharto dari jabatannya, ada beberapa pertanda alam, seperti; batuk-batuknya Gunung Merapi karena tidak tahan menahan sedih. Gunung Merapi yang dikenal memiliki keramat dengan posisi menghadap kiblat didampingi permaisurinya Gunung Singgalang, ternyata tak mampu menahan kehendak Allah, jatuhnya sang pemimpin dari tampuk kekuasaan.

Tidak ada yang abadi di dunia ini termasuk kekuasaan. Figur mantan orang nomor satu di Indonesia, Soeharto memang belum ada tandingannya. Senyumannya membuat suasana damai dan orang-orang terkesima. Beliau adalah bapak bangsa, pada masa kepemimpinannya bangsa Indonesia begitu disegani oleh bangsa lain termasuk negara adi kuasa AS, Inggris, Perancis dan Australia. Pada pemerintahannya tidak pernah ada daerah yang ingin merdeka atau bergejolak. Letusan senjata atau ledakan bom, tak pernah terdengar. Hanya ledakan mercon dan percikan kembang api tanda rakyat bergembira ria. Bahkan, pria bertato lari sembunyi, takut bangun pagi tak bernyawa lagi.

Sebagai bangsa besar dan berwibawa, membuat Australia dan Malaysia takut bersuara. Sebagai pemimpin bangsa dengan umat Islam terbesar di dunia, Soeharto dipuji oleh bangsa Asia dan Afrika. Programnya sederhana, bagaimana Indonesia sejajar dengan AS dan Eropa.

Soeharto punya program jitu untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Program PELITA (Pembangunan Lima Tahun) serta menghargai para petani dan pedagang kecil, yang dikenal ekonomi Pasar Inpres. Pokoknya berbau Inpres, berjalan dengan baik.

Indonesia dikenal subur, meski banyak oknum berbuat kotor dan jadi koruptor. Namun Soeharto tidak pernah bikin rakyat sengsara, dia selalu berpihak pada rakyat kecil. Pada tahun 1975, terjadi peristiwa MALARI, namun Soeharto mengetahui siapa dalang di balik peristiwa itu. Lalu dia tidak tinggal diam, siapa yang merongrong kekuasaannya dihabisi akhirnya banyak yang lari ke luar negeri.

Pada pemerintahan Orde baru memang banyak kejanggalan tapi semua bungkam. Tahun 1978, masyarakat yang dinilai berjasa meski sudah masuk usia pensiun dapat jabatan empuk menduduki posisi penting. Namun apa yang terjadi, jabatan itu disalahgunakan, kebijaksanaan tidak lagi sempurna. Saat itu, dibuka kran untuk jadi PNS secara besar-besaran. Penerimaan tidak lagi menurut aturan yaitu tanpa test. Bahkan, ada oknum Lurah yang tidak bisa tulis baca. Masya Allah, kerjanya cuma cari harta.

Soeharto menyadari sebagai manusia dia punya keterbatasan. Namun karena hasutan dan laporan yang selalu cari muka, ABS (Asal Bapak Senang) ia terjebak. Pada tahun 1982, Soeharto ingin mundur sebagai presiden RI. Tapi dicegah oleh Harmoko. Berkat laporan menyenangkan Harmoko, ia kembali naik takhta.

Harmoko dengan kekuasaannya sebagai Menteri Penerangan dengan pongahnya membredeli media massa yang dinilai berlawanan arah. Saat itu, boleh dikatakan, mengatur bangsa ibarat memandikan Kerbau. Artinya, kalau memandikan Kerbau kita tidak basah oleh air, cukup Kerbau tersebut mandi sendiri. Kondisi ini beda dengan memandikan Kuda, pemilik Kuda ikut mandi dan basah dengan air.

Tahun 1996, terjadi likuidasi Bank. Celakanya BI (Bank Indonesia) tidak berfungsi dana BLBI dibawa lari. Bahkan, pemerintah memberi izin pada pengusaha perkebunan meski kontraknya habis 40 tahun. Lalu dengan enaknya menggarap hutan lindung TNKS dan mengambil kayunya. Alasan demi memperluas perkebunan sawit rakyat.

Pengusaha cukup dengan bermodalkan selembar surat dari pemerintah setempat. Lalu dengan mudah pinjam dana dan menguras Bank Indonesia. Kepemimpinan Soeharto mulai menurun, sejak Ibu Tien wafat berdampak pada kewibawaannya. Puncaknya pada tanggal 21 Mei 1998, Soeharto tidak kuat menahan gempuran desakan mahasiswa. Kemudian tampuk kekuasaan ia serahkan pada Habibie. Dia berkata, ”mampukah anda memimpin bangsa ini.” Jasa Soeharto tetap dikenang oleh anak bangsa.

Saat Habibie berkuasa banyak terjadi kemunafikan dan sesama umat Islam saling tidak percaya dengan hari besarnya. Sementara Habibie tidak punya strategi seperti yang dimiliki gurunya Soeharto. Karena tuntutan reformasi untuk menegakkan demokrasi, lalu berdirilah dengan jumlah besar “partai politik”. Celakanya, yang mendirikan partai banyak yang masuk usia uzur dan pengangguran. Semboyan partai yang mereka dirikan “demi kesejahteraan rakyat tapi menguras uang rakyat”.

Jangan heran, akibat semboyan itu, wakil rakyat era reformasi banyak masuk bui gara-gara korupsi. Pemerintahan Habibie, rakyat bersedih, propinsi Timor Timur yang dipertahankan oleh darah prajurit lepas begitu saja. Tapi Habibie sempat juga dipuji, berkat kepiawaiannya dia bisa menekan kenaikan dollar AS. Ia juga disanjung oleh PNS karena diam-diam naikkan gaji tanpa diketahui pedagang. Dilain pihak aset-aset negara yang potensial itu dirancang untuk go publik. Ceritanya yang beli pengusaha itu juga bekerjasama dengan pihak luar negeri….ya dunia sandiwara.

Kemudian ketika negeri ini dipimpin oleh Gus Dur, presiden yang dikenal lucu langsung mengunjungi tanah Yahudi guna silaturrahmi dan dibuka kran sebesar-besarnya bagi masuknya investasi asing termasuk kemudahan-kemudahan yang diberikan. Leluconnya adalah, ia tidak segan-segan menertawakan dan menilai anggota dewan seperti anak TK (Tukang Korupsi).

Gus Dur selalu menghargai dan memperingati semua hari keagamaan, yang sejak zaman Presiden terdahulu dilarang, contohnya Imlek. Dia juga punya pasukan berani mati dan beliau tidak tahu masuknya bantuan dana dari Brunei Darussalam untuk Aceh. Begitu kepemimpinannya diganti Megawati, apa yang terjadi?

Hutan dan rimba tidak ada lagi, karena ditebangi dan hasilnya dinikmati oleh pencuri. Industri strategis dijual demi mengeruk keuntungan mengejar komisi. Bahkan aset negara dijual ke negara tetangga Singapura dan Malaysia. Ironisnya, pulau kebanggaan Sipadan dan Ligitan dicaplok oleh Malaysia. Maklum presiden RI wanita.

Ahli Ekonomi Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo (alm.) pernah memberi peringatan bahwa Indonesia ini seperti ladang, kalau tak hati-hati mengurusnya bisa bahaya. Ibaratnya, sekarang masih kerbau, lalu jadi kambing. Kambing menjadi ayam, dan seterusnya. Akhirnya tak ada yang tinggal lagi. Sekarang peringatan Sang Profesor makin mendekati kenyataan. Uang sudah nyaris tak punya harga lagi. Nilai uang seribu rupiah tahun lalu, mungkin tinggal lima ratus rupiah hari ini, karena harga-harga sudah naik dua kali lipat. Penghasilan? Ya begitu-begitu saja. Rencana pemerintah menaikkan gaji pegawai, ternyata sudah didahului oleh kenaikan harga-harga bahan kebutuhan pokok rakyat. Maka berlakulah pepatah; ayam bertelor di atas padi mati kelaparan, itik berenang dalam air mati kehausan. Kekayaan yang dimiliki negeri ini tak memberi berkah bagi rakyatnya. Lantas, apa yang salah sehingga bangsa ini begitu menderita? Manusianya yang salah. Pemimpinnya yang salah. Kita lupa bertanya secara jujur kepada hati nurani. Kita selalu terperangkap dalam pola pikir ekonomi-fisik-uang. Bangunan yang belum masanya dirobohkan, sudah dihancurkan demi mengejar yang namanya uang proyek. Padahal di dalam bangunan itu ada sumberdaya manusia yang seharusnya lebih perlu ditingkatkan kualitasnya, ketimbang memaksa pembangunan bangunan baru.

Pepatah mengatakan : Taneman Maelo Todak, Naik Sampan Turun Parahu, Berpedoman Kami Nan Tidak, Angin Bakisau Kami Tau

Setelah mengilas balik fenomena ril di masyarakat kita, saatnya kita berubah. Karena seperti apa yang dipesankan oleh Prof. Soemitro, kalau negara ini tak diurus dengan hati-hati, suatu waktu akan hancur. Maka, untuk melakukan perubahan, tak mesti lewat sebuah revolusi besar, tetapi cukup mulai dengan yang terkecil, dari masing-masing individu, meluas ke keluarga, lingkungan dan bangsa.

Pangkal dari krisis yang dialami bangsa ini hingga sekarang adalah; karena terabaikannya aspek moral-agama-budaya dalam kehidupan kita sebagai bangsa. Agama yang dianut oleh anak-bangsa ini kian rapuh diterpa modernisasi, begitu juga moral dan budaya. Jadi untuk mengobati bangsa ini, harus dilakukan telaah agama-moral-budaya secara serius.

Bangsa Kaki Lima

Oleh: Jimmi VIlli (Sutan Rajo Nan Sati)

Anehnya sekarang, sejak presiden berganti, banyak PNS berkeliaran dan tidak tahu yang dikerjakan. Apa guna Menteri Aparatur Negara, tidak bisa mengurusi anggotanya. Berapa banyak guru honor yang diangkat sebagai PNS. Istilah guru sudah hilang, yang tinggal hanya ngajar mengajar, ternyata mutu pendidikan makin melorot alhasil jadi kurang ajar. Mereka bisanya menuntut kenaikan gaji dan tunjangan, tapi kerjanya makan gaji buta saja. Apa tak hancur negara, mereka lebih baik mundur atau tak ada sama sekali, bila perlu dikirim jadi TKI.

Kita pantas tersenyum dan tertawa melihat tingkah polah mereka. Karena negeri ini memang lucu dan jangan heran Presiden AS George Walker Bush serta beberapa tokoh dunia mengunjungi negeri ini karena sempat dipimpin orang yang lucu.

Begitu juga pejabat atau guru. Selain gaji juga mendapatkan tunjangan jabatan atau profesi dan tunjangan lainnya. Bila tak mensyukuri dan melaksanakan tugas dengan baik selaku pejabat yang dipercaya oleh masyarakat, berhenti saja saudara. Itu lebih terhormat dari pada disumpahi oleh anak buah, masyarakat dan negara, karena saudara sebelum memangku jabatan itu saudara telah disumpah, ingat hari pembalasan Ku!

Saat ini tidak terhitung banyaknya pemimpin rakyat yang sering mengumbar janji. Begitu sudah dapat yang ia inginkan, semua janji yang pernah dilontarkan tidak diingat lagi, tapi janji tinggal janji di bibirmu. Mereka asyik mencari keuntungan pribadi, tidak peduli dengan hati nurani. Dalam kampanye, mereka memuji diri sendiri, seakan ia manusia paling jujur di muka bumi. Ia tidak menyadari, buah kesuksesan yang menentukan adalah Yang di Atas. Dan rakyat tidak bisa dibodohi karena tahu siapa mereka itu.

Pola pikir kaki lima ternyata sudah sampai ke wakil rakyat. Saat ini betapa enaknya jadi wakil rakyat, tidak perlu pendidikan tinggi atau titel panjang. Siapa bisa meraih suara terbanyak dan menipu rakyat maka bisa duduk enak.

Jadi wakil rakyat memang enak, tak perlu hadir sidang soal rakyat. Demi membuat undang-undang perjudian perlu belajar dan studi banding ke Mesir. Karena negeri itu dimakamkan guru besar Fir’aun. Perangai sesuai dengan yang berkunjung disana.

Al-Qur’an sendiri menganjurkan manusia belajar dan menuntut ilmu dari buaian sampai ke liang kubur. Tapi sekarang anggota hewan (bukan dewan) justru belajar ke negeri Fir’aun. Apakah ini salah satu budaya pendidikan atau pendidikan berbudaya. Ini patut direnungkan para Rektor di negeri ini.

Sebagai makhluk yang berakal-budi, manusia juga punya naluri untuk selalu bertanya pada hati-nuraninya, karena hati nurani adalah unsur yang di langit, sementara jasmani atau tubuh merupakan unsur yang di bumi. Manusia yang berakhlak mulia, memiliki keseimbangan antara unsur di langit dan di bumi (nurani-jiwa-raga).

Sekarang mari kita bertanya kepada hati nurani kita. Sudah adakah keadilan di negeri ini? Sudah tumbuh-suburkah kejujuran di negeri ini? Jawabannya bisa beragam. Tapi sejumlah kasus dan temuan bisa memberi gambaran tentang kondisi negeri yang kita cintai ini. Ketika pejabat atau atasan tidak lagi didengar oleh anak buahnya, dapat dipastikan pejabat tersebut adalah penjahat. Pada sosok pejabat seperti itu, kerjanya berbuat aniaya, tidak pernah membimbing dan tidak memperhatikan kesejahteraan anak buahnya. Berbeda dengan pejabat yang dicintai anak buahnya, ia pasti bersifat kebapakan, mau memahami kesulitan anak buahnya dan memperhatikan kesejahteraan bawahannya. Jika pejabat ini wafat, anak buahnya akan lebih merasa kehilangan ayah sekaligus sahabat.

Sebetulnya, wakil rakyat yang duduk enak di DPR dan MPR tiap bulan terima gaji gede. Tidak perlu ada di Indonesia, karena mereka itu tak pernah menyuarakan hati rakyat.

Memang untuk berbuat kebaikan dan meluruskan jalan seseorang tidaklah mudah. Karena saat ini, budaya saling curiga sesama manusia sulit dikikis. Ini tidak lain karena puluhan tahun kita dikungkung oleh budaya tersebut. Bahkan, melakukan korupsi merupakan kebanggaan bagi seorang pemimpin. Bagi penegak hukum maling kecil-kecilan adalah perbuatan nista yang tidak terpuji. Tapi korupsi atau illegal logging kasus yang indah sekali, dalam maangguak inyo menggeleng.

KAPOLRI Bukan hanya Bicara, Tapi juga Berbuat

Oleh: Jimmi VIlli (Sutan Rajo Nan Sati)

Berita kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) itu sudah biasa terjadi sesuai dengan situasi negara kita ini, untuk itu lebih baik jangan selalu ribut-ribut masalah ini. Tujuannya distandarisasi harga BBM seperti negara-negara lain supaya aman negeri. Karena disubsidi banyak pencuri / maling lagi…..itu ajak kok repot .Tukang tipu kena tipu sakit sekali perasaan hatinya. Masih lamak juo maso pamarentahan Soeharto bilang induak-induak atau amai-amai di pasar bercerita harga barang-barang kebutuhan sehari-hari di rumah tidak selalu naik harganya

Sering terjadinya demonstrasi sehingga terjadinya kerusuhan, masyarakat menuding Kapolri dan jajarannya tidak berani bersikap tegas. Kapolri dan jajarannya mengerti tugas dan tanggung jawab sesuai juklak dan juknis yang dibuat oleh peraturan, yaitu : dalam melakukan tindakan harus berdasarkan laporan. Sementara laporan dari korban tidak ada, bagaimana mereka akan melakukan tindakan. Walaupun tugasnya menjaga keamanan, tapi peraturan itu yang dibuat begitu, nanti masyarakat akan menuding lain, sedangkan masyarakat tidak mengerti peraturan yang dibuat. Dilain pihak otak atau dalang demonstrasi tidak bisa ditangkap atau diproses secara hukum. Bukannya Polri beserta jajarannya tidak tahu, tapi peraturanlah yang dibuat sehingga gerak langkah terhambat untuk menangkap dalang demonstrasi tersebut atau otak pelakunya (jangan asal ngomong di media publikasi). Dan jangan korbankan nama baik mahasiswa/i, mengerti apa mereka sekarang, modal uangnya dari mana untuk demonstrasi, sedangkan beli rokok saja minta-minta. Karena itu untuk apa adanya lembaga HAM, bubarkan saja tidak ada guna dan manfaat. Kalau ada uang baru nampak kerjanya.

Memang kita akui KAPOLRI Jenderal Sutanto, tak banyak bicara tapi langsung berbuat demi negara tercinta. Ia menciptakan budaya malu untuk anggotanya agar berbuat dan mengayomi masyarakat dengan ramah. Ini sesuai dengan slogan budaya malu di jajaran kepolisian. Karena masyarakat menginginkan lingkungan sekitarnya aman dan tertib. Setiap pelaku kejahatan anggota Polri dengan cekatan berhasil membongkarnya. Setiap masyarakat ditimpa masalah dan melaporkan ke polisi langsung dilayani dengan baik. Kemudian juga berbenah di Departemen Agama, Departemen Pendidikan dan Kejaksaan Agung serta Departemen dan jajaran institusi lain.

Polisi Republik Indonesia dengan jajarannya telah berbenah diri. Melalui kebijakannya memberlakukan sistem komputerisasi untuk pelayanan dan pengayoman masyarakat. Sehingga paradigma yang selama ini berlangsung di tubuh Polri kental dengan militerisme tidak didapatkan lagi. Begitu juga Kapolri Jenderal Polisi Sutanto telah membuat 10 item program yang harus dijalankan jajarannya sampai ke Polsek di seluruh Indonesia. Tugas–tugas itu yakni memberantas judi, narkoba, Korupsi, ilegal logging, ilegal missing, ilegal fishing serta menghentikan penyelundupan, premanisme, separatisme dan konflik horizontal, mengamati peredaran BBM agar tidak diselewengkan, senpi dan handal serta terorisme.

Semua item program tersebut diatas sudah dilaksanakan di jajaran Kepolisian /Polri. Betapa banyaknya cukong-cukong maling kayu yang ditangkap, juga kasus judi, minuman keras dan narkoba, pemalsuan uang, maling ikan di lautan, termasuk maling bahan bakar BBM, maling pupuk yang sebenarnya untuk petani.

Dalam setiap kasus demonstrasi, pihak polisi sebenarnya sudah berbuat sesuai dengan aturan di lapangan, namun masyarakat berkomentar bahwa polisi terkesan lamban tidak mau bertindak, itu betul perkataan masyarakat.

Namun yang lebih betul lagi, masyarakat harus membuat legitimasi karena unsur legitimasi dari masyarakat belum ada, kesepakatan bersama sesuai dengan hukum administrasi sebagai alat pembuktian di lapangan. Jadi hendaknya masyarakat jangan ngomong doang tanpa berfikir yang jernih.

Idealnya masyarakat dalam hal ini penguasa lebih mengetahui tentang tugas Kepolisian tidak lagi yang berkiblat pada kepentingan penguasa, namun lebih mengutamakan kepentingan masyarakat Indonesia. Alasannya di era masa lalu Polisi menjalankan tugasnya dengan cara antagonis (yang berlawanan dengan masyarakat). Sedangkan kini polisi tugasnya protagonist (dekat dengan masyarakat). Jadi ketika terjadi kasus unjuk rasa yang mengarah ke anarkhis polisi bertindak menjadi polisi masyarakat membantu atau mencarikan jalan keluar terhadap tuntutan atau orasi yang disampaikan bukan anggapan polisi negara atau polisi yang dimanfaatkan oleh negara. Polisi itu tugasnya yang penting adalah apa yang menjadi perhatian masyarakat untuk menenteramkan kehidupan masyarakat banyak.

Penilaian ini disampaikannya ketika melihat program kerja itu telah diterapkan dan dibuktikan oleh Poltabes Padang dan Polda Sumbar dan jajarannya. Salah satu bukti itu seperti sekarang ini, Kapoltabes Padang ditraktir oleh bos-bos atau pengusaha keluar kantor keberatan. Ia berprinsip kalau ada urusan sebaiknya diselesaikan di kantor. Sekarang hubungan anggota dengan komandannya berjalan lancar. Sehingga hubungan horizontal itu semakin lama semakin rapat. Buktinya ketika dalam apel gabungan anggota, ada yang tidak hadir maka langsung dicari dan ditanya apa masalahnya. Anggota Poltabes Padang tidak takut pada pimpinan tapi mereka segan karena keramahannya. Semula kebijakan ini sempat mendapatkan cemoohan dari anggota sendiri, dikatakan sok alim dan sok hebat. Tapi dengan usaha keras itu bisa diterapkan di Poltabes Padang.

Tak kalah menakjubkan, gaya kepemimpinan itu ternyata dapat diwariskan kepada Kapoltabes yang baru. Sehingga Kapoltabes Padang yang baru, juga menerapkan gaya kepemimpinan yang sama. Rasa kekeluargaan dan hubungan bapak pada anak terus tercipta. Disiplin dinas tetap dijaga. Kini anggota Poltabes Padang malu untuk berbuat kesalahan. Namun bila ada anggota yang masih menggunakan paradigma lama langsung ditegur. Coba perhatikan jika kita datang ke Mapolda Sumbar untuk suatu urusan, kita tidak lagi menemukan wajah anggota yang angker dan seram. Kedisiplinan ini juga dilakukan Kapolres di jajaran Polda Sumbar.

Kata polisi, kini hati kami gembira karena dana insentif pemeriksa/biaya operasi ada lagi, namun sayang sungguh disayang turun dananya suka tersendat-sendat lagi maklum baru kali ini istri kurang mengerti (tidak percaya tanya sama angku kali). Kamsiah, wartawan yang nulis berita ini, hanya informasi tolong diselidiki di tubuh sendiri, dan cukup kali ini terjadi. Yang mengatakan, itu kan dulu. Sekarang mungkin tidak begitu. Kasihan jadi anak buah, capek-capek mengintai, lolos lagi, bagaimana mau serius.

Bahkan TNI juga telah berbenah diri. Sekarang para anggota TNI baik dari Korem maupun Koramil tidak lagi bebas berkeliaran di luar jam dinas. Sebenarnya belakangan ini sudah banyak anggota TNI yang diproses karena indisipliner, cuma tidak diekspos keluar.

Kedekatan yang diciptakan Kapoltabes terdahulu melekat hingga sekarang dan selalu dikenang semua anggota di Poltabes Padang. Terus mengayomi bawahan dan menjalin silahturrahmi di lingkungan anggotanya. Tujuannya, untuk menciptakan kinerja yang baik dan lancar. Sehingga kedekatan itu menjadi pendongkrak semangat anggotanya. Dan jangan heran, jika pelayanan terhadap masyarakat di bidang lalu lintas ada peningkatan. Seperti, bikin SIM untuk pengendara kendaraan bermotor dan bentuk pelayanan lainnya.

Jadi apa yang diprogramkan Kapolri sampai saat ini tetap dijalankan anggotanya, tanpa banyak bicara. Tapi terus berbuat demi rakyat. Bahkan, ketika terjadi bencana alam tanah longsor di Aia Dingin, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, anggota Polri dibawah komando Kapolda Sumbar Brigjen. Pol. Drs. Utjin Sudiana, langsung menuju lokasi untuk membantu korban bencana alam. Kesiapan dan kedisiplinan anggota Polri bersama TNI patut diacungi jempol. Karena lembaga inilah yang dinilai paling siap membantu setiap bencana yang datang.

Si Buyung pernah berciloteh. Katanya, ketika ia bertugas, nuraninya berlawanan dengan tugas yang diembannya. Tapi yang namanya perintah wajib dilaksanakan. Maklum, begitu tamat pendidikan langsung dapat satu balok (pangkat pertama), lalu naik kereta api tut, tut, tut, siapa hendak turut. Dua balok muncul. Kemudian dari pangkat balok Si Buyung bernyanyi lagi. Lagunya; aku seorang kapiten punya pedang panjang. Selanjutnya, dapat pangkat baru. Nyanyiannya; bunga melati sampai tiga kali. Kolonel/Kombes datang. Sambil lihat bintang di langit, coba bintang kecil. Eh, ternyata turun juga bintangnya, dapat balok tiga. Sudah dapat bintang muncullah lagu di sini senang, di mana-mana hatiku senang.

Katanya humor dahulu ucapan terima kasih.

Udara : Setinggi-tingginya

Laut : Sedalam-dalamnya

Darat : Seluas-luasnya

Polisi : Sebanyak-banyaknya

Pegawai Negeri : Seadanya

Pengusaha/wartawan : Sebisa-bisanya yang penting oke punya

Dahulu nyanyi TNI AD (Terima Nasib Ini Apa Adanya/Tanpa Nunggu Instruksi Atasi Dulu), Prajurit tinggal di barak, Perwira di rumah dinas, Jenderal di rumah pribadi. Kalau prajurit lagunya maju tak gentar, kalau perwira lagunya disini senang disana (dapat rumah dinas, mobil dinas). Kalau Jenderal, kemesraan janganlah cepat berlalu.

Ada istilah; komandan berbicara persoalan mudah kenapa tidak dipersulit, dan persoalan sulit lebih dipersulit agar uangnya banyak. Semua awalnya berjiwa polisi (Putar Otak Lihat Situasi). Tentara (Tenang tapi rakyat suka). Berbeda dengan pemimpin, berbicara masalah besar bisa diperkecil masalah kecil dihilangkan, banyak tersenyum dan tegur sapa, menyapa sesama manusia karena kita selaku umat manusia bukan robot. TNI (Tentara Nasional Indonesia) POLRI (Polisi Republik Indonesia). Kebersamaan itu indah.

Mafia peradilan memang sulit dibasmi di Indonesia, selain memburu pelaku illegal logging yang dibebaskan mafia itu, rakyat pantas marah kepada penegak hukum yang menggunakan jubah hitam. Sebab, polisi yang sudah bersusah payah memburu pelaku illegal logging ke negeri Cina dengan biaya besar, tak tahunya pengadilan menyatakan tak bersalah. Para hakim dan jaksa yang mengadili itu harus diproses. Yang memeriksa jangan dari institusi sendiri, karena sama-sama terlibat. Tak mungkin para hakim dan jaksa itu tidak kecipratan dana dari penjahat kelas kakap. Selain itu, jaksanya juga harus diperiksa, termasuk kasus-kasus di kejaksaan yang tergolong kasus ”berdaging” kemudian di-pending. Dulu, petugas untuk menyerahkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) ke kejaksaan bayar pelicin. Ke Panitera pengadilan begitu juga, bayar lagi. Dan uang itu dari kantong pribadi petugas. Kalau faktanya sudah begitu, bagaimana petugas tidak nakal.

Biar pangkat Kopral tapi pemikiran Jenderal, dari pada pangkat Jenderal cara berfikirnya Kopral, tinggal di rumah dinas sampai meninggal dunia. Maka dari itu, untuk memimpin di negara Indonesia harus terjun dulu ke medan perang. Memimpin pasukan perang ke negara lain, yaitu memimpin pasukan perdamaian Internasional. Bukan pengalaman memimpin di masyarakat kampung. Tak salah pemikiran dan sifatnya kampungan, walaupun titel yang disandang bergelar profesor segudang.

Sekarang kan lucu, masa banyak yang gila penghargaan, gila status, gila embel-embel. Tak sedikit pula penghargaan dan embel-embel itu dibeli di atas meja, tanpa berbuat sesuatu. Sebetulnya, kalau dia manusia berbuat dengan perbuatannya itu sehingga nanti setelah dia meninggal dunia, baru rakyat memberikan penghargaan atau merasa kehilangan, itu titel yang paling bagus atau penghargaan yang bagus, bukannya penghargaan atau kehormatan yang dibeli, nanti ketahuan juga, malu dong bagi yang tahu, ikut-ikutan pejabat sebelumnya. Seperti orang yang mengaku tokoh masyarakat. Kalau jadi tokoh tidak perlu dipestakan, nanti setelah kita meninggal dunia baru tahu siapa sebenarnya yang Tokoh atau Pakar. Bukan berupa pelakat yang dicetak, tapi pelakat yang dibuat oleh masyarakat banyak nantinya. (bisa niru-niru numpang ngetop artis bilang).

Hal ini, beda dengan pengusaha. Sebelum jadi pengusaha mereka tidak pernah disumpah, sedangkan pejabat begitu dilantik langsung kena sumpah. Sadar atau tidak sadar mereka itu sudah makan sumpah. Akhirnya, mereka banyak melanggar sumpah dalam memimpin atau melakukan pekerjaan sehari-hari. Saat ini, mencari pemimpin atau pejabat yang memiliki moral sangat sulit. Bisa dibuktikan, betapa panjangnya daftar pejabat yang antri menunggu masuk bui. Sudah tuli tidak lagi mau mendengar yang baik, dan mata hati sudah buta demi mengejar kesenangan duniawi.

Pejabat atau pegawai pemerintah sebetulnya bertugas melayani rakyat bukan menindas rakyat. Sehingga cocok juga dibuat undang-undang pemerintahan dan perlu kita sambut dengan baik. Niat buruk itu jelas dari dirinya sendiri dan dipengaruhi oleh setan atau iblis, karena iblis dan setan berjanji kepada Allah SWT akan menggoda umat manusia selama hidup di dunia ini. Maka berdzikirlah kita.

Mungkin karena begitu rumitnya sistem birokrasi dan begitu banyaknya masalah yang mesti diselesaikan, maka dibentuklah komisi ini-itu. Calon anggota komisi-komisi itu diajukan pemerintah dan mesti disetujui oleh DPR. Dari sana sudah bisa dibaca, komisi itu diajukan oleh lembaga yang korup, disetujui pula oleh lembaga yang korup, maka yang terpilih juga orang yang korup. Maka begitu komisi-komisi itu terbentuk, ujung-ujungnya tentu juga seberapa besar komisi yang bisa mereka terima dari pekerjaan konstitusionalnya, baik berupa uang maupun fasilitas lainnya. Kantor/gedung pengadilan dibangun dimana-mana. Semua daerah punya pengadilan negeri dan pengadilan tinggi, tetapi kenapa rakyat kita tak mendapat keadilan? Karena, yang bekerja menegakkan hukum itu sudah tak adil lagi. Kesannya pengadilan diadakan memang hanya untuk mengadili rakyat, bukan mengadili pejabat. Pengacara juga begitu, mereka kebanyakan bekerja bukan lagi untuk membela yang benar, tetapi membela yang bayar!

Yang menilai tentu para guru, dosen atau Dinas Pendidikan karena mereka inilah yang terkait langsung menjadikan anak bangsa cerdas dan pintar serta berbudaya. Bukti nyata, bagaimana pendidikan budaya saat ini, narkoba sudah dinikmati murid SD, oleh sesama mahasiswa dan itupun bukan rahasia umum lagi. Apakah ini yang disebut budaya pendidikan atau pendidikan berbudaya? Hal ini perlu direnungkan bersama oleh para rektor perguruan tinggi di Indonesia, Departemen dan instansi yang terkait, apakah ini salah satu budaya pendidikan atau pendidikan berbudaya…..? Mana itu guru kita

Almarhumah Ibu Kasur Bernyanyi:

Ada anak baru masuk sekolah

Pakai kacamata rambutnya ekor kuda

Siapa namanya Siti Rohani

Dimana rumahnya di jalan Kayu Jati

Nomor berapa nomor sepuluh

Anak siapa anak ibu guru

Syair lagu diatas menyiratkan bahwa arti pendidikan di dunia selalu ada perubahan. Nama Rohani mencerminkan hal yang religius harus tetap kita tanam dalam sanubari. Artinya bagaimanapun bentuk perubahan yang kita alami agama jangan kita lupakan. Kayu Jati sebagai simbol dari keteguhan hati yang sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan, apapun yang kita lakukan harus diiringi dengan keteguhan hati, jangan setengah-setengah, harus yakin. Nomor sepuluh merupakan angka hitungan yang tertinggi, menganjurkan kita untuk selalu berusaha mencapai yang terbaik. Anak siapa anak ibu guru menyiratkan agar jangan berbuat salah, nanti akan memalukan orang tua.

Bukan lagu yang kebanyakan beredar saat ini, liriknya tidak membawa manfaat seperti lirik biar miskin atau menderita, makanya ini menyesatkan umat yang selalu menderita dan miskin terus selamanya, karena berbicara sama dengan berdoa.

Akibat dari “pendidikan instan” siap saji sehingga muncul generasi tidak nyambung tentang makna dan arti diri sendiri. Bangkitlah bangsa Indonesia bukan bank saku ini untuk ku. Lucunya Badan Narkotika Nasional sudah ada tugasnya sorak-sorak bergembira, sambil jual slogan saja. Ngabisin duit negara, untuk kepentingan diri dia dan keluarga sementara narkoba tetap merajalela. Bubarkan saja, masih banyak yang butuh dan bermanfaat bagi masyarakat.

Pengurus Universitas Bung Hatta kini mulai berbenah dan menyadari memakai nama Proklamator RI Bung Hatta (Alm). Setiap mahasiswa/i baru tidak perlu bayar uang pembangunan lagi. Kini penulis menyambut baik dan terima kasih baik program itu.

Berulang kali…!

Oleh: Jimmi VIlli (Sutan Rajo Nan Sati)

Saat ini yang menghancurkan hukum adalah orang hukum atau setidaknya mengerti hukum. Yang menghancurkan pendidikan orang pendidik. Yang menghancurkan agama Islam juga orang Islam. Padahal keputusan bersama itu lebih indah dan lebih baik dari pada berdasarkan golongan atau organisasi semata sebab manusia hidup di dunia ini beraneka ragam.

Tapi harap maklum, kenapa hukum Indonesia bisa berujung begitu. Karena hukum pidana yang kita pakai tidak laku lagi, dan sudah kadaluarsa karena peninggalan penjajahan Belanda. Anehnya, Belanda sendiri tak mau lagi memakai hukum yang sudah ketinggalan zaman itu. Sampai detik ini Undang-undang itu tidak ada yang bisa mengubahnya.

Untuk apa ada Departemen Sosial sementara anak jalanan berkeliaran. Untuk apa Departemen Kehutanan sementara pengelolaan hutan dan kayu berantakan. Untuk apa adanya Departemen Agama sementara umat banyak yang engkar. Untuk apa ada Departemen Perhubungan, tapi di jembatan timbangan aparatur minta sedekah. Berhenti sajalah jadi pegawai, karena yang lain banyak akan masuk. Antar departemen kenapa tidak sejalan harmonis demi bangsa dan negara. Lebih baik berurusan sesuatu pada manusia yang mengerti pada tugas dan tanggung jawab dalam pekerjaannya, daripada berurusan dengan orang yang tidak mengerti tugas dan tanggung jawab. Dalam bekerja, yang dipikirkan cuma duit dan bisa ngomong saja. Repot deh….apa lagi dongkol perasaan kita nantinya.

Menteri Kesehatan RI Dr. Siti Fadillah Supari memang seorang ibu yang mengerti dengan tugasnya, beda dengan tugasnya sebagai seorang isteri. Hal ini dapat kita buktikan masyarakat butuh pengobatan gratis, banyak dari mereka mengaku miskin. Puskesmas dan rumah sakit umum siap melaksanakan tugas mulia untuk masyarakat sesuai dengan ilmu rekan sejawat yang telah tertanam di tubuh Dinas Kesehatan. Ternyata di lapangan yang terjadi, justru yang menggunakan kartu miskin, ialah orang yang mampu dibandingkan masyarakat lain.

Ibu Menteri Kesehatan tersenyum saja mendengar kejadian itu, rekan sejawat tetap melayani dengan senyum dan ramah selaku petugas. Maklum mereka itukan yang minta miskin sendiri. Untuk apa kita pertengkarkan, tidak baik hasilnya, walaupun yang berobat ke rumah sakit atau Puskesmas, usia dan pendidikan cukup bagus bukan anak kecil lagi. Seperti kata pameo, orang gila itu sedikit dan yang mau menjadi gila banyak sekali. Orang buta saja istrinya empat, pakai handphone lagi.

Sumpah Mati Tagak….

Oleh: Jimmi VIlli (Sutan Rajo Nan Sati)

Sumpah Mati Tagak

Di mana-mana sekarang sering kita dengar pedagang kaki lima yang diusir. Mereka terusir seperti lalat saja. Mereka sudahlah diusir, barang dagangannya juga diangkut ke kantor Polisi Pamong Praja (Pol-PP). Yang malangnya lagi, dagangan mereka lenyap begitu sampai di Pol PP. Padahal, pedagang itu cuma cari makan, bukan cari kaya. Mereka berdagang di trotoar juga karena kelalaian pemerintah yang tak mampu menyediakan tempat berdagang yang cocok bagi mereka. Lantas siapa yang membela pedagang? Anggota dewan? Jangan harap. Nampaknya urusan rakyat bukan urusan mereka, kecuali mendekati masa pemilihan umum. Sehingga satu-satunya cara bagi pedagang tergusur itu adalah mengadu kepada Allah SWT. Selain itu secara bersama para rakyat kecil yang beriman apabila digusur (PKL) tanya walikota adakah tempat yang layak untuk kami berjualan mencari nafkah untuk anak istri kami yang butuh makan karena kami tidak mau merampok, mencuri dan sebagainya, kepada Bapaklah kami bermohon selaku pimpinan yang berkuasa dan orang tua rakyat.

Apabila tidak ada tempat untuk berjualan kata walikota, izinkan kami secara bersama-sama memohon doa kepada Allah SWT agar Bapak Walikota mati tagak (Mati berdiri), karena sudah berbuat aniaya kepada rakyat.

Dunia Sudah Terbalik

Oleh: Jimmi VIlli (Sutan Rajo Nan Sati)

Ganti pejabat ganti kebijaksanaan, sudah lumrah di negeri ini. Sehingga, rakyat sudah harus bersiap menjadi korban setiap ada pergantian pejabat, karena biasanya akan diiringi dengan keluarnya kebijaksanaan baru yang memberatkan rakyat. Korbannya bisa anak sekolah, pedagang, pengurus izin usaha, petani, nelayan, atau siapa saja. Padahal, pergantian pejabat bukan berarti harus mengganti atau merombak kebijaksanaan pejabat terdahulu, seperti yang terjadi PLN, PDAM jual gituan aja kok rugi terus. Alasan selalu efisiensi, enggak pakai modal biaya besar (maling teriak maling). Halo KPK…! Kok diam saja. Melainkan melanjutkan apa yang baik, ditingkatkan.

Untuk menjadi seorang pemimpin itu dipilih orangnya bukan partainya, sehingga dia akan memihak kepada rakyat bukan kepada partainya karena dia dipilih oleh rakyat. Salah satu contoh nasib rakyat yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima sudah diusir dari lokasi berjualan lalu ditindas, tidak diberikan lokasi yang baru untuk berjualan lagi, mereka itu bukan mencari kekayaan melainkan mencari sesuap nasi dan mencari untuk kesejahteraan keluarganya, tapi kebanyakan pemimpin tidak peduli akan nasib rakyat seperti itu, kalau begitu lebih baik mundur saja menjadi pemimpin, memimpin dirinya saja belum bisa apalagi memimpin masyarakat umum.

Aparatur pemerintahan yang kurang bagus, karena yang memilih dan mengangkat kurang bagus pula. Misalnya calon gubernur, walikota dan bupati, seharusnya bukan dipilih oleh partai, karena yang terjadi selama ini adalah praktik pemerasan oleh partai terhadap calon. Bila dipilih oleh partai politik, berarti jabatan itu sama dengan ditenderkan atau diproyekkan. Kalau tender tentu ada pemborong, hasilnya jika dipilih nanti jadi pembohong. Wajar mereka jadi pembohong demi untuk membalikkan/mengembalikan modal sebelum jadi kepala daerah yang sudah diinvestasikan. Istilah perkataan gubernur, walikota dan bupati selalu hebat dan bagus sejak dari zaman dahulu kala (rancak jadi perampok di nagari urang, baru memimpin kampung halaman indak kajadi parampok lai).

Jadi gubernur atau walikota mereka harus tahu dengan kondisi daerahnya. Aneh, begitu jadi walikota tidak tahu dengan situasi daerah sendiri dan desa-desa terpencil termasuk kelurahan. Jadi bagaimana membangun masyarakat kalau tidak tahu dengan daerah kekuasaannya. Selaku pemimpin harus tahu kebutuhan serta keperluan masing-masing daerah itu demi kemajuan daerah dan masyarakat ke depan, ia katakan ia, bila tidak katakan tidak, karena jabatan itu amanah dari rakyat, bukan proyek tender yang dibuat untuk menguras uang rakyat (takurung harus didalam, taimpik harus dibawah). Apabila anda selaku warga negara yang baik dan menyadari saudara memilih atau dipilih oleh rakyat dan bukan partai, mari bersama-sama meluruskan dan menegakkan citra bangsa Indonesia.

Mencermati sering terjadinya kerusuhan usai dilakukannya Pilkada sehingga memakan korban manusia, kita melihat Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu) hanya sebagai penonton saja yang tidak mempunyai kekuatan untuk membawa pelanggar pemilu ke depan pengadilan (Mahkamah). Seperti pelanggaran kartu ganda, kartu orang meninggal hidup lagi dan sebagainya. Hal ini dikarenakan undang-undang tidak mendukung Panwaslu untuk berbuat lebih jauh. Dalam hal ini agar Panwaslu punya kekuatan maka perlu adanya Undang-undang yang direvisi. Bila tidak bubarkan saja Panwaslu ganti dengan tugas Kepolisian. Karena hal ini menyimpang, merupakan tindak pidana murni/sabotase.

Bila diri kita dipilih jadi walikota, gubernur, menteri dan jabatan lain, sebaiknya berjanji kepada Tuhan YME. Berkatalah; dengan jabatan ini saya bersedia meluangkan waktu dan umur saya ini selama lima tahun untuk kepentingan masyarakat, berbuat segala kebaikan untuk rakyat di daerah yang saya pimpin, jabatan yang saya pegang sebagai amanah rakyat, bukan proyek tender jabatan/pemborong/pembohong. Rakyat bisa membuktikan kapasitas dan nilai diri saya ; pandaikah, cerdas, bijaksana dan berani. Saya akan katakan yang benar itu benar, salah itu tetap salah. Seluruh kegiatan yang ada di desa-desa dan kecamatan hapal di luar kepala. Apa saja yang saya perbuat ke depan, adalah karena keinginan rakyat, demi kemajuan bersama

Harusnya kita menyadari jabatan yang didapat ini tidaklah mudah, penuh perjuangan, kenapa disia-siakan dan jabatan yang kita pimpin adalah amanah. Binatang saja di hutan bisa tertib dan hidup saling menghargai, kenapa manusia yang memiliki otak dan pikiran serta pengetahuan sifatnya melebihi binatang, tidak tertib dan susah diatur.

Harimau mati meninggalkan belang, manusia wafat meninggalkan nama baik, gubernur, bupati dan walikota meninggalkan………………………..Kalau Pejabat tentu meninggalkan……………………………. perangai?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.